Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan di GNFI
Penulis: Muhamad Fikri Asy’ari
Walaupun masuk dalam keluarga kerupuk, rengginang berbeda karena dibuat dari beras ketan atau beras biasa, bukan dari tepung. Kehadiran rengginang pun bukan kebetulan, ada sejarah dan nilai budaya di baliknya, yang menunjukkan kreativitas masyarakat Indonesia dalam mengolah makanan.
Ingin tahu lebih lanjut terkait rengginang? Mari simak lebih lanjut!
Lebih dari Camilan, Ada Filosofi di Baliknya
Rengginang dikenal luas di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa dan Sumatra. Dalam budaya Jawa dan Sunda, rengginang bukan sekadar makanan pendamping, tapi juga punya makna simbolis. Bentuknya yang bulat melambangkan persatuan dan kesetaraan. Butiran nasi ketan yang kecil-kecil menyatu menjadi satu kesatuan yang kokoh—sebuah pengingat bahwa kebersamaan selalu lebih kuat daripada berdiri sendiri.
Rengginang juga dianggap sebagai simbol kesabaran karena prose pembuatannya panjang, beras ketan harus direndam, dikukus, dibumbui, dicetak, dijemur, lalu digoreng. Proses ini mengajarkan bahwa sesuatu yang baik membutuhkan waktu, ketekunan dan usaha. Dalam peribahasa Sunda, ada istilah “Ciracak ninggang batu, laun-laun jadi legok,” yang artinya usaha kecil yang dilakukan terus-menerus akhirnya akan menghasilkan sesuatu.
Menariknya, secara historis rengginang lahir dari kebiasaan sederhana: tidak mau membuang nasi sisa. Nasi ketan yang tersisa dijemur lalu digoreng kembali, menghasilkan camilan renyah yang ternyata disukai banyak orang. Dari kebiasaan sederhana ini, rengginang berkembang menjadi camilan khas dengan berbagai rasa (Rachman, 2025).
Kandungan Nutrisi dalam Rengginang
Sebagai camilan berbasis nabati, rengginang mengandung karbohidrat kompleks yang bisa jadi sumber energi dan membuat kenyang lebih lama dibandingkan dengan camilan berbahan tepung terigu. Jika menggunakan beras merah atau tambahan rumput laut, kandungan seratnya juga lebih tinggi—baik untuk pencernaan dan membantu menurunkan risiko diabetes serta obesitas.
Rengginang juga mengandung protein nabati, meski jumlahnya tidak sebesar protein hewani. Sementara kandungan lemaknya berasal dari proses penggorengan, sehingga tetap perlu dikonsumsi secukupnya. Khusus rengginang berbahan beras merah, terdapat tambahan antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas.
Meski sering dianggap “hanya camilan”, rengginang sebenarnya punya nilai gizi yang cukup baik, apalagi jika dibuat dengan campuran rumput laut atau beras merah.
Rengginang dengan campuran beras merah atau rumput laut juga lebih tinggi serat. Serat penting untuk menjaga pencernaan tetap sehat serta membantu menurunkan risiko diabetes dan obesitas.
Rengginang juga mengandung protein nabati, meskipun jumlahnya tidak sebanyak sumber protein hewani. Protein ini membantu pembentukan sel tubuh dan menjaga daya tahan. Sementara itu, kandungan lemak pada rengginang berasal dari minyak goreng, sehingga tetap perlu dikonsumsi secukupnya.
Rengginang Hari Ini: Tradisional, Tapi Tetap Relevan
Seiring waktu, rengginang ikut bertransformasi. Banyak UMKM rumahan menghadirkan inovasi rasa seperti salted egg, spicy cheese, cokelat, hingga matcha. Dari sisi kebersihan dan kemasan pun makin diperhatikan, membuat rengginang tampil lebih modern dan cocok jadi oleh-oleh atau camilan anak muda.
For a healthier option—and in line with the spirit of Meatless MondayUntuk pilihan yang lebih ramah kesehatan—dan sejalan dengan semangat Meatless Monday—pilih rengginang dengan bahan sederhana, minim pengawet, dan tanpa terlalu banyak perasa buatan. Camilan tradisional berbasis nabati seperti ini bisa jadi alternatif ngemil yang lebih sadar dan berkelanjutan.
Rengginang membuktikan bahwa makanan sederhana bisa punya cerita besar. Dari pangan darurat, simbol kebersamaan, hingga camilan favorit lintas generasi.
Jadi, kapan terakhir kali kamu ngemil rengginang?
Kalau belum, mungkin ini saat yang tepat buat mencicipi lagi—bukan cuma rasanya, tapi juga kisah di baliknya
Referensi:
BSP Radio. 2025. Makna Filosofi Rengginang dan Cara Membuatnya. https://bspradiopekalongan.com/makna-filosofi-rengginang-dan-cara-membuatnya/
Kustini & Adiwati, M.R. 2021. Rengginang Sebuah Alternatif Usaha. Surabaya: CV. Mitra Abisatya
Rachman, M.F. 2025. Muasal Rengginang: Jejak Camilan Tradisional yang Tidak Pernah Absen Selama Lebaran. https://www.tempo.co/gaya-hidup/muasal-rengginang-jejak-camilan-tradisional-yang-tidak-pernah-absen-selama-lebaran-1226391
Rachman, M.F. 2025. Rengginang Camilan Legendaris yang Tak Pernah Absen di Lebaran, Apa Saja Nutrisinya?.