Bayangin kehidupan anak muda di kota besar: ritme serba cepat, lembur sampai larut malam, kopi jadi teman setia, dan fast food yang menjadi penyelamat perut saat lapar. Selama bertahun-tahun, hal ini layaknya ‘Gen Z starter kit’. Tapi belakangan, ada perubahan yang menarik dan sebenarnya cukup radikal pada cara generasi muda memaknai hidup sehat.
Dahulu, citra keren sering dikaitkan dengan dugem atau party yang identik dengan alkohol. Namun, survei Gallup (2025) menunjukkan pola yang berbeda, di mana konsumsi alkohol di kalangan anak muda turun dari 72% menjadi 62% dalam dua dekade. Walau turun 10%, hal ini menandakan penurunan yang besar karena ‘bersenang-senang’ tidak lagi diidentikkan dengan minuman keras.
Sebagai gantinya, khususnya pasca-COVID-19, muncul gelombang aktivitas baru yang lebih mindful. Yoga pagi dan sore di taman, lari maraton sambil unggah rute strava, padel sebagai olahraga yang lagi ngetren, hingga eksperimen masak makanan sehat dan plant-based di rumah. Pada akhirnya, tren ini semua membentuk komunitas-komunitas baru.
Menurut Lokadata, 24% Gen Z dan millennial kini rutin berolahraga minimal tiga kali seminggu, menjaga pola makan, tidur cukup, dan menjauhi rokok dan alkohol. Setengah dari Gen Z pun mengatakan bahwa berolahraga untuk kesehatan tubuh, bukan hanya estetika semata, sebab ingin merasakan kesegaran di tubuh.
Selain itu, kepedulian pada lingkungan pun beriringan dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan anak muda. Dari tote bag, tumbler, hingga pilihan makanan seperti Meatless Monday, menjadi gaya hidup yang sehat tanpa merusak Bumi.

Hidup Sehat: Konten Estetik atau Prioritas Nyata?
Dari lari yang dipantau Strava, pukulan padel yang lagi naik daun, sampai gerakan pilates yang estetik. Semua jadi bagian dari gelombang olahraga baru anak muda urban.
Fenomena ini nggak muncul tiba-tiba; banyak dipicu oleh personal branding yang dibangun influencer lewat konten visual yang rapi dan aspiratif di TikTok maupun Instagram.
Banyak anak muda mengaku terdorong mencoba kebiasaan lebih sehat setelah melihat konten para health influencer, mulai dari olahraga ringan, minum air putih pagi hari, sampai memperbaiki pola makan. Meski begitu, mereka tetap selektif dan tidak menelan semua konten mentah-mentah (Aryanto & Irwansyah, 2025).
Konten semacam ini memang punya efek domino yang cukup positif, memantik motivasi kolektif, mendorong literasi kesehatan, dan perlahan menormalisasi gaya hidup yang lebih mindful.
Bahkan, tren ini melahirkan komunitas-komunitas baru di kota besar, seperti kelompok lari, geng padel, circle pilates, yang membuat olahraga terasa seperti ruang sosial baru.
Laporan Women’s Health juga menunjukkan pola serupa, lewat data Year in Sport dari Strava, 58 persen anak muda mengaku mendapat teman baru berkat aktivitas olahraga, dan satu dari lima Gen Z bahkan pernah berkencan dengan seseorang yang mereka temui saat berolahraga.
Tapi ada sisi lain yang perlu dicatat. Standar hidup sehat yang “dipoles” sering kali menciptakan tekanan baru.
Aktivitas seperti padel atau pilates tidaklah murah, dari outfit sampai biaya tempat. Sehingga gaya hidup sehat ini berpotensi eksklusif bagi sebagian kelompok.
Di sinilah tantangannya: bagaimana tetap sehat tanpa ikut terjebak dalam standar yang dibuat oleh algoritma dan estetika semata?
Balik Lagi ke Intinya: Sehat Buat Diri Sendiri
Untuk hidup sehat yang lebih mindful, coba mulai dari satu hal: prioritaskan dirimu, bukan FOMO (Fear of Missing Out).
Kadang kita terlalu sibuk mengejar apa yang lagi ramai sampai lupa dengerin tubuh sendiri.
Pertama, kenali dirimu dulu.
Tanya hal sederhana seperti:
- olahraga apa yang benar-benar kamu nikmati?
- Kenapa kamu ingin berolahraga?
- Kondisi tubuhmu kuatnya sampai mana?
Jawab dengan jujur.
Hal itu akan menjadi kompas, biar kamu nggak memaksakan standar orang lain.
Kedua, ingat kalau proses lebih penting daripada pencitraan hasil akhir.
Media sosial sering hanya menunjukkan versi “after”, padahal yang nggak kelihatan itu ratusan “before” yang penuh trial and error.
Alih-alih ikut cemas, nikmati prosesmu sendiri dengan ritme napasmu, otot yang makin kuat, dan mood yang perlahan lebih stabil. .
Sekecil apa pun progresnya, hargai untuk dirayakan.
Ketiga, jaga keseimbangan.
Olahraga memang penting, namun hidupmu nggak cuma itu.
Atur jadwal yang sehat:
- kapan untuk push diri
- kapan istirahat
- kapan fokus belajar atau kerja
Intensitas yang pas jauh lebih sustainable daripada memaksa tiap hari sampai akhirnya cedera dan kapok melanjutkan.
Keempat, bersih-bersihkan timeline dari konten yang bikin kamu merasa kurang.
Toxic fitness content itu nyata.
bikin insecure, bikin FOMO, bikin kamu merasa harus ikut tren tertentu agar dianggap ‘keren’.
Isi feedmu dengan akun yang real, suportif, dan sesuai dengan dirimu, serta komunitas yang bikin kamu berkembang bukan tertekan
Pada akhirnya, ini tentang dirimu
Akhir-akhir ini tren hidup sehat anak muda memang makin kuat, dari influencer, literasi kesehatan yang meningkat, sampai keinginan buat lebih sayang sama tubuh sendiri.
Tapi ada sisi lain yang perlu dicermati: beberapa tren olahraga memang mahal dan terasa eksklusif.
Karena itu, balik lagi ke hal yang penting: pilih olahraga yang cocok buat dirimu, bukan untuk validasi ke orang lain.
Jadi, kamu sendiri sudah merasakan perubahan tren ini di sekelilingmu?
Referensi
Arlado. 2025. Gaya Hidup Baru Gen Z dan Tren Anti-Alkohol. https://radarmojokerto.jawapos.com/kesehatan/826515069/gaya-hidup-baru-gen-z-dan-tren-anti-alkohol?page=2#google_vignette Aryanto, T.N & Irwansyah. 2025. Tren Hidup Sehat Melalui Interaksi Sosial di TikTok: Efektivitas Konten Kesehatan Terhadap Perubahan Gaya Hidup. Da Watuna Journal of Communication and Islamic Broadcasting 5 (4): 350-363 CNN Indonesia. 2025. Olahraga Jadi ‘Klub Malam’ Baru di Kalangan Gen Z. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20251024200949-277-1288259/olahraga-jadi-klub-malam-baru-di-kalangan-gen-z Rahmita, A & Al–Yamani, Z. 2025. Survei 24 persen Gen Z dan milenial peduli kesehatan fisik dan mental: apa penyebabnya? https://www.viva.co.id/arsip/1792454-survei-24-persen-gen-z-dan-milenial-peduli-kesehatan-fisik-dan-mental-apa-penyebabya Tan, Y. 2025. Inilah 5 Tips Ampuh Agar Olahraga Anti-FOMO, Dijamin Happy. https://urbanvibes.id/index.php/2025/07/26/76379-juli-2025-lifestyle-inilah-5-tips-ampuh-agar-olahraga-anti-fomo-dijamin-happy/