Di tengah banjirnya makanan instan, junk food dan Ultra Processed Food (UPF), frozen food yang serba cepat dan praktis, kini banyak anak muda justru mulai menoleh kembali ke makanan tradisional, yakni berbagai panganan nabati dengan dimasak secara dikukus.
Fenomena ini muncul seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya pola makan sehat dan bergizi.
Bagi generasi yang akrab dengan makanan serba digoreng, istilah “makanan kukus” mungkin dulu terdengar kolot.
Namun sekarang, justru makanan kukusan sedang naik daun dan menjadi “pahlawan baru” clean eating di kalangan anak muda yang lagi cari pola makan lebih mindful.
Dari talas, jagung, edamame, kacang tanah, singkong sampai ubi cilembu warna-warni (ungu, kuning, orange), bahan lokal ini menjadi primadona di tangan generasi muda.
Kenapa bisa gitu? Apa sih daya tariknya?
Makanan Kukus Tradisional yang Naik Daun
Tren makanan kukus ini mulai meledak berkat media sosial, terutama TikTok. Tagar #Kukusan dan #RealFood ramai dibicarakan karena dianggap mewakili gaya hidup yang lebih alami, tanpa minyak, rendah lemak, tapi tetap enak dan bergizi. Video pendek yang menampilkan dengan berbagai menu kukusan sukses menarik perhatian bagi kalangan anak muda yang mulai penasaran dan mencobanya.
Karena viral, tren ini juga mendorong banyak orang untuk ikut berjualan makanan kukus, baik di pinggir jalan maupun pada kegiatan Car Free Day (CFD) tiap akhir pekan. Makanan kukus pun menjadi sarapan pagi alternatif yang sehat dan simpel, mengenyangkan, dan mudah dibawa.

Aisyah (25), salah satu Gen-Z, mengaku sempat tidak menduga melihat anak muda mulai gemar makan kukusan.
“Jujur, tren positif ini sangat tidak terduga, karena anak muda biasanya lekat dengan ultra processed food. Tapi sekarang banyak yang sadar pentingnya makan sehat dan peduli pada lingkungan. Harapannya, mereka (anak muda) yang mengadvokasi gerakan ini bisa terus semangat dalam menyebarkan pentingnya konsumsi pangan sehat serta pangan lokal demi masa depan yang lebih baik," ujarnya. she said.
Menurut Aisyah, tren ini jadi tanda baik bahwa makin banyak anak muda peduli pada kesehatan dan lingkungan. Mereka tidak hanya ingin tampil sehat, tapi juga berkontribusi pada perubahan gaya hidup yang lebih baik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah serbuan makanan instan, masih banyak anak muda yang memilih kembali ke cara makan yang lebih sederhana, bergizi, dan ramah bagi tubuh. Makanan kukus ini bukan sekadar pilihan sehat, tapi juga menjadi simbol gaya hidup baru yang modern tanpa meninggalkan akar tradisi.
Tren Positif yang Layak Menjadi Gaya Hidup
Meningkatnya minat terhadap makanan kukus ini datang di saat yang tepat. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan, angka obesitas di kalangan orang dewasa naik dari 21,8% pada 2018 menjadi 23,4% pada 2023. Artinya, jika tren ini terus berlanjut, lebih dari 68 juta orang dewasa Indonesia berisiko mengalami obesitas pada 2025.
Tak hanya itu, SKI (2023) juga mencatat kasus kolesterol tinggi pada usia muda (15–24 tahun) mencapai 158 kasus, sementara kelompok usia 25–34 tahun sekitar 139 kasus. Angka ini bisa terus naik kalau pola makan dan gaya hidup tidak diperbaiki.
Tren makanan kukus bisa menjadi salah satu jalan keluar. Banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan nabati seperti ubi, singkong, dan kacang-kacangan membantu menurunkan risiko obesitas dan kolesterol. Kandungan serat, protein nabati, serta senyawa alami seperti antosianin dan karotenoid berperan penting dalam menjaga berat badan, menghambat penyerapan lemak, dan meningkatkan metabolisme tubuh. Selain itu, dapat menurunkan kadar kolesterol total dan jahat. (Ferreira et al, 2020) (Mullins et al, 2021)
Lebih dari sekadar tren kesehatan, kebangkitan makanan kukus juga membuka peluang ekonomi dan pelestarian budaya. Bahan-bahan lokal seperti ubi cilembu, talas, dan singkong bisa menjadi komoditas bernilai tinggi bila diolah dengan sentuhan kreatif nan sehat.
Kini, makanan kukus bukan lagi simbol “menu orang tua”, melainkan pilihan cerdas bagi generasi muda yang ingin tetap sehat tanpa kehilangan cita rasa. Dari dulu yang dianggap “hambar”, kini berubah jadi ikon gaya hidup baru, yang sehat, simpel, dan berakar pada tradisi Nusantara.
So, apakah Meatless Monday Warriors pernah mencoba makanan kukusan tersebut?
Referensi
Ferreira, H., Vasconcelos, M., Gil, A., & Pinto, E. (2020). Benefits of pulse consumption on metabolism and health: A systematic review of randomized controlled trials. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 61, 85 – 96.
Mullins, A., & Arjmandi, B. (2021). Health Benefits of Plant-Based Nutrition: Focus on Beans in Cardiometabolic Diseases. Nutrients, 13.