Siapa sih yang tidak tahu kolak dan kicak? Panganan manis ini sering diincar saat bulan puasa sebagai takjil untuk berbuka puasa. Umumnya, kolak merupakan ciri khas panganan masyarakat Indonesia pada bulan Ramadan. Kicak pun ikut meramaikannya. Rasa yang manis dan hangat menjadi cocok untuk berbuka setelah 13 jam menahan lapar dan dahaga. Di berbagai daerah, kolak sendiri banyak variasi bahannya, begitu pun dengan kicak yang dipenuhi dengan berbagai bahan pembuatnya. Ternyata, di balik rasanya yang enak dari kedua panganan tersebut, memiliki sejarah dan nilai yang mendalam bagi masyarakat.
Kolak Diperkenalkan
Awalnya, kolak hadir sebagai alat dalam penyebaran agama Islam oleh Wali Songo di Pulau Jawa. Panganan ini digunakan karena mudah diterima oleh masyarakat setempat, di mana para wali menyisipkan ajaran Islam secara halus dan efektif. Semenjak itu, kolak menjadi satu kesatuan tradisi bagi masyarakat di bulan puasa yang menandakan budaya dan agama dapat berpadu dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Kata ‘kolak’ sendiri berasal dari bahasa Arab, yakni ‘khalik’, yang berarti Sang Pencipta atau Allah SWT. Hal ini bermakna, ketika menyantapnya dapat sekaligus mengingat kepada Sang Khalik dan dekat dengan Allah SWT, khususnya dalam bulan Ramadhan yang penuh dengan kebaikan.
Variasi bahannya pun memiliki makna dan arti masing-masing dalam ajaran Islam. Umumnya, kolak dibuat dari pisang kepok, ubi, dan santan.
- Pisang kepok, misalnya, memiliki arti jera atau kapok, sebagai pengingat manusia untuk jauh dari dosa dan tidak mengulanginya lagi.
- Ubi atau telo pendem, mengubur kesalahan sebelumnya, dan fokus pada hidup kedepannya yang menjadi lebih baik dan diberkahi oleh Tuhan YME.
- Santan atau dalam bahasa Jawa ‘santen’, kependekan dari kata ‘pangapunten’ yang memiliki arti pada permohanan maaf dan meminta ampun kepada Tuhan YME dan ke sesama manusia.
Kicak Meramaikan
Walaupun tidak umum di seluruh masyarakat Indonesia, panganan ini terkenal dan khas di Yogyakarta. Kicak adalah jajanan khas Ramadan dari Kampung Kauman, Kota Yogyakarta. Bahannya sendiri terbuat dari ketan, kelapa muda, nangka, gula pasir, dan daun pandan. Memunculkan rasa gurih manis di setiap gigitannya.
Dalam sejarahnya, menurut pakar gastronomi dari Universitas Negeri Yogyakarta, Minta Harsana, kicak telah muncul dan digemari oleh masyarakat sejak tahun 1950-an. Kata kicak sendiri merepresentasikan manisnya panganan tersebut. Kicak berasal dari kata ‘kinca’ dalam bahasa Jawa kuno, yang berarti gula jawa, dan kata ini banyak ditemukan dalam prasasti kuno.
Sebelumnya, kolak mengandung arti sebagai pengingat kepada Tuhan. Sedangkan kicak, memiliki arti dalam mempererat tali silaturahmi kepada sesama di bulan Ramadhan. Manisnya rasa disimbolkan menjadi pertanda keindahan dalam hubungan baik secara persaudaraan.
Kedua panganan tersebut menyimbolkan rasa syukur dan menjaga hubungan antarsesama, yang akhirnya memberikan keseimbangan bagi manusia.
Mudahnya Membuat Kolak

Dalam panganannya, bahan-bahan pembuat kolak memang mudah ditemukan di sekitar kita, yakni:
- 1 sisir pisang kepok
- 4 sendok makan gula merah yang sudah disisir
- 250 ml santan yang dilarutkan
- 2 lembar daun pandan
- ½ sendok teh garam
- 5 cm kayu manis (optional)
Bagaimana Cara Membuatnya
- Kupas pisang dan memotongnya menjadi tiga bagian..
- Rebus semua bahannya hingga santan mendidih dan pisang matang.
- kolak siap dihidangkan
Panduan Sajian Kicak
Sama seperti kolak, bahan kicak pun mudah didapat di warung atau toko klontong, seperti:
- 500 gram beras ketan putih
- ½ kelapa parut
- 250 ml santan cair
- garam secukupnya
- 3 lembar daun pandan
- potongan nangka
- gula merah sisir

Langkah Membuat
- Campurkan beras ketan, kelapa parut, garam, dan duan pandan, lalu kukus selama lebih dari 30 menit.
- Angkat campuran ketan, kemudian masukkan ke dalam air mendidih selama 30 menit hingga matang sempurna.
- Angkat ketan dalam keadaan panas, tumbuk hingga halus dan pulen.
- Dalam membuat kuahnya, didihkan santan kental dengan gula merah, daun pandan, dan sedikit garam hingga mengental.
- Sajikan dengan memotong ketan yang sudah ditumbuk, taruh di piring dan siram dengan kuah gula merah, lalu taburi dengan potongan nangka di atasnya.
Referensi
- Achroni, D. Learning from Traditional Javanese Foods. Jakarta: Ministry of Education and Culture, Language Development and Fostering Agency.
- Daeng, M.F. (2024). Kicak, the Sweet Legend of Ramadan from Yogyakarta. Kompas.