Bayangin bangun pagi lalu mendengar kabar: waduk mulai mengering, sawah gagal panen, harga beras naik lagi, dan kebakaran hutan muncul di berbagai daerah. Kedengarannya seperti adegan film bencana. Tapi ini bukan film.
Indonesia sedang menghadapi ancaman Godzilla El Niño — fenomena iklim ekstrem yang diprediksi membawa kekeringan besar di berbagai wilayah Indonesia sepanjang 2026. Dan dampaknya bisa langsung terasa sampai ke meja makan kita.
Emang Godzilla El Niño ini apa sih dan kenapa disebut Godzilla?
Merupakan fenomena yang sangat membahayakan bagi umat manusia, yang akan menyebabkan kelangkaan pangan karena kekeringan ekstrem yang melanda. Hal ini menandakan bahwa sistem iklim global memang tidak stabil dan terus berubah-ubah. Selain kelangkaan pangan, El Niño juga akan mengakibatkan kebakaran hutan, terutama pada wilayah yang dipenuhi oleh gambut (Ullum et al., 2024).
Istilah “Godzilla” sendiri dipakai karena menggambarkan fenomena yang kuat dan jauh lebih besar dari biasanya dan telah dipopulerkan oleh ilmuwan NASA pada tahun 2015 yang terinspirasi dari karakter monster dalam film fiksi Godzilla. Dampak yang dihasilkan tak bisa disepelekan karena awan akan berpindah ke wilayah Samudra Pasifik dan memicu kemarau yang berkepanjangan dan jarang, bahkan tidak ada hujan di Indonesia.
Dan masalahnya bukan cuma soal cuaca panas.
Ketika Krisis Iklim Mulai Mengganggu Pangan Kita
Sebagai negara tropis yang sangat bergantung pada pola hujan musiman, Indonesia sangat rentan terhadap El Niño. Saat hujan berkurang, cadangan air tanah menurun. Sungai dan waduk menyusut. Musim tanam terganggu. Risiko gagal panen meningkat. Kebakaran hutan dan lahan juga makin mudah terjadi, terutama di kawasan gambut.
Artinya, ancaman terbesar sebenarnya bukan cuma kekeringan — tapi krisis pangan.
Beras, sayur, hingga berbagai bahan pangan lain bisa terdampak akibat terganggunya produksi dan distribusi. Bahkan, WALHI menyebut kondisi ini berpotensi memicu krisis air bersih, gagal panen, hingga kelangkaan pangan di berbagai daerah.
Kalau selama ini kita terlalu bergantung pada sistem pangan yang tidak tahan terhadap krisis iklim, Godzilla El Niño menjadi alarm bahwa pola konsumsi kita perlu lebih adaptif dan berkelanjutan.
Meatless Monday dan Tanggung Jawab Konsumsi Kita
Di tengah kondisi tersebut, hal yang lumrah adalah mengubah pola makan kita agar dapat beradaptasi.
Meatless Monday menjadi relevan untuk diterapkan karena gerakan ini bukan sekadar ajakan mengurangi konsumsi daging satu hari dalam seminggu, tetapi juga mendorong masyarakat untuk kembali mengenal kekayaan pangan lokal berbasis tumbuhan yang selama ini sudah menjadi bagian dari budaya makan masyarakat Indonesia.
Indonesia punya banyak sumber pangan nabati yang bergizi, terjangkau, dan lebih ramah lingkungan seperti tempe, tahu, daun kelor (moringa), kacang hijau, kacang tanah, berbagai jenis sayuran lokal, hingga makanan fermentasi tradisional.
Sayangnya, banyak pangan lokal tersebut mulai tersisih oleh pola konsumsi modern yang lebih bergantung pada produk olahan dan konsumsi daging berlebih.
Padahal, di tengah ancaman kekeringan ekstrem, pangan lokal berbasis tumbuhan justru bisa menjadi bagian penting dari sistem pangan yang lebih tangguh.
Mengurangi Daging Bukan Berarti Mengurangi Gizi
Kekeringan panjang juga berdampak besar pada produksi pangan hewani karena peternakan membutuhkan sumber daya yang sangat besar, terutama air. Sebagai contoh, untuk menghasilkan 1 kg daging sapi dibutuhkan sekitar 15.400 liter air. Dalam kondisi Godzilla El Nino, ketersediaan akan air menurun drastis, melihat pada curah hujan yang turun hingga 50–90% dari kondisi normal.
Akibatnya, produksi daging akan tertekan. Karena itu, mengurangi konsumsi daging — bahkan hanya satu hari dalam seminggu — bisa menjadi langkah sederhana namun berdampak besar. Selain membantu mengurangi tekanan terhadap lingkungan, pola makan berbasis tumbuhan juga dapat mendukung kesehatan tubuh jika dilakukan secara seimbang.
Buah dan sayuran yang kaya air dan nutrisi seperti mentimun, bayam, kangkung, sawi, jeruk, dan melon juga penting dikonsumsi di tengah cuaca panas ekstrem untuk membantu menjaga hidrasi dan daya tahan tubuh.
Godzilla El Niño mungkin tidak bisa kita hentikan sendirian. Tapi cara kita meresponsnya tetap bisa menentukan banyak hal.
Apa yang kita makan hari ini bukan lagi sekadar soal selera, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga kesehatan, lingkungan, dan ketahanan pangan di masa depan.
Mulai dari mengurangi konsumsi daging, mencoba lebih banyak pangan lokal, hingga memperbanyak makanan berbasis tumbuhan — semua langkah kecil itu adalah bentuk adaptasi terhadap krisis iklim yang sedang terjadi.
Karena di tengah iklim yang semakin tidak menentu, mungkin yang paling kita butuhkan bukan cuma stok pangan lebih banyak, tapi juga cara konsumsi yang lebih bijak, sehat, dan berkelanjutan.