Gen Z & Mental Health: Dari Tabu Jadi Topik Sehari-hari

Share

Di tengah dunia digital yang serba cepat dan selalu terkoneksi, obrolan soal kesehatan mental kini terasa jauh lebih terbuka di kalangan remaja tanpa dibayangi stigma. Anak muda mulai menempatkan isu ini sebagai bagian penting dalam hidup mereka, bukan lagi sekadar bisikan di pinggir percakapan.

Istilah seperti self-love, boundaries, sampai burnout sudah jadi bahasa sehari-hari. Mereka makin berani memprioritaskan kondisi emosional dan psikologis dalam hubungan, belajar mengenali perasaan sendiri, merawat diri dalam self-care, mencari informasi yang benar, bahkan mengambil langkah untuk datang ke tenaga profesional ketika dibutuhkan.

Kesadaran ini bukan cuma lahir dari diri sendiri, melainkan dari lingkungan mereka, dimulai dari budaya pop hingga media digital. Telah menyuburkan ruang ekspresi yang lebih terbuka mengenai kesehatan mental. Musik, misalnya, sering jadi medium yang paling dekat.

“Pilu yang dulu hilang kini berganti merdu, badai telah berlalu.”

Penggalan lirik dari kolaborasi BCL, Diskoria, dan Laleilmanino dalam lagu “Badai Telah Berlalu” ini mengingatkan bahwa rasa sakit dan badai hidup pada akhirnya bisa reda.

Lalu, apa yang sebenarnya mendorong remaja untuk semakin peduli pada kesehatan mental mereka?

Mencari Arah Hidup di Tengah Emosi yang Naik-Turun

Masa remaja adalah fase penuh perubahan. Tuntutan sekolah, dinamika pertemanan, perubahan tubuh, ekspektasi keluarga, hingga tekanan dari dunia digital datang bersamaan. Tidak heran kalau isu kesehatan mental makin sering muncul ke permukaan.

Data menyebutkan bahwa dari 31 juta penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas telah mengalami gangguan mental, bahkan 19 juta di antaranya menghadapi masalah emosional, dan 12 juta lainnya mengidap depresi (Qurniyawati, 2025). Angka ini jelas bukan hal sepele, melainkan butuh penanganan cepat.

Menurut Braghmandita Widya Indraswari dari Satgas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada tiga fase besar yang ikut membentuk kondisi mental remaja.

Pertama, fase ketika fisik, cara berpikir, dan lingkungan sosial berubah secara drastis, pubertas dimulai, dan mereka mulai merasa punya peran dan sebagai calon individu dewasa.

Fase kedua adalah masa transisi, dari anak yang bergantung pada orang tua menjadi sosok yang perlahan belajar berdiri sendiri.

Lalu fase ketiga adalah ketika perubahan biologis, psikologis, dan seksual makin terasa kuat seiring berjalannya pubertas.

Di tengah semua perubahan itu, emosi remaja memang cenderung naik turun. Rasa penasaran pun semakin besar. Pada usia 14–16 tahun, banyak yang mulai ingin mencoba hal-hal baru, mulai dari yang positif hingga berisiko, seperti rokok atau alkohol. Ini biasanya menjadi titik di mana mereka mencari jati diri, sehingga pendampingan dari orang dewasa sangat penting agar mereka tidak salah arah.

Sementara itu, pada usia 17–19 tahun, kebanyakan remaja mulai memiliki rasa tanggung jawab yang lebih matang. Mereka lebih mampu menimbang mana keputusan yang baik, mana yang buruk, dan mulai membangun kemandirian mereka sebagai manusia dewasa.

Budaya Pop dan Peran Media Digita: Pedang Bermata Dua

Selain faktor dari dalam diri, lingkungan luar juga punya andil besar. Kesehatan mental yang dulu dianggap urusan pribadi kini berubah jadi obrolan bersama karena banyak orang merasa punya pengalaman dan perasaan yang sama.

Di platform seperti Tiktok, Instagram, dan X, ekspresi kegelisahan, curhat, atau cerita hidup muncul begitu bebas sehingga tumbuh rasa ‘kita senasib’ di antara para penggunanya.

Banyak publik figur—artis, musisi, sampai influencer—ikut berbagi pengalaman mereka soal kesehatan mental. Dampak positifnya, stigma perlahan terkikis. Remaja jadi lebih berani mengakui bahwa merasa lelah, cemas, atau kewalahan itu manusiawi. Akses informasi juga semakin mudah, membantu banyak orang memahami apa yang sedang mereka rasakan.

Namun, keterbukaan ini juga memiliki sisi lain yang tidak dapat diabaikan. Akses mudah terhadap informasi terkadang mendorong diagnosis mandiri tanpa bimbingan profesional. Tekanan sosial akibat terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain juga terus meningkat.

Namun, media sosial juga tidak selalu membawa efek baik. Penelitian (Patricia et al, 2024) menunjukkan bahwa 81 persen responden usia 15–26 tahun merasa konten di media sosial sangat memengaruhi kesehatan mental mereka. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, tercatat juga 81 persen responden mengaku terpengaruh hanya karena melihat story seseorang.

Jika tidak disikapi dengan bijak, media sosial yang seharusnya jadi ruang hiburan justru bisa menguras energi emosional.

Menjaga Kesehatan Mental Tetap Seimbang

Untuk menjaga diri tetap waras di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan.

Salah satunya adalah peer support—dukungan dari teman sebaya. Interaksi dengan orang yang usianya sama dan punya pengalaman mirip sering membuat kita lebih mudah merasa dimengerti. Dukungan seperti ini bisa memunculkan empati, memberi ruang aman, dan membantu seseorang tidak merasa sendirian (Prakosa et al, 2024).

Selain itu, melatih regulasi emosi juga penting. Beberapa hal yang bisa dicoba antara lain mindfulness, mengubah pola pikir yang tidak membantu, mengekspresikan emosi dengan sehat, serta membangun pola hidup yang lebih seimbang.

Termasuk menjaga pola makan, misalnya dengan Meatless Monday. Sejumlah studi menunjukkan bahwa pola makan berbasis nabati dapat membantu memperbaiki suasana hati serta menurunkan tingkat stres, depresi, dan kecemasan, meskipun efeknya bisa berbeda tiap orang.

Hal lain ialah memberikan jeda dari media sosial. Digital break membantu mengurangi paparan konten yang memicu kecemasan dan membuat pikiran lebih lega.

Pada akhirnya, perhatian remaja terhadap kesehatan mental bukan sekadar tren. Ini adalah bentuk usaha untuk mengenal diri sendiri, memahami batasan, dan hidup lebih seimbang.

Terbuka soal perasaan adalah hal yang sehat, selama tetap dibarengi dengan batasan agar tidak berujung pada kelelahan emosional.

Peduli kesehatan mental bukan tanda lemah—justru bukti bahwa kita ingin bertumbuh dengan lebih sadar.

Referensi

Other
Blurbs